Rabu, 12 September 2007

Gempal Berawal di Irian Jaya

-- Puncak Terjadi Gempa Bengkulu

Pantauan di situs Gempa Terkini mencatat sepanjang Rabu (12/9) ternyata Indonesia di guncang 6 kali gempa dimulai pukul 08.55 WIB pada titik 607 km TimurLaut Jayapura-Papua. Dalam catatan BMG daftar Gempa terkini, selama Rabu (12/9) kekuatan gempa tertinggi 7,9 SR dengan titik 159 km BaratDaya Bengkulu-Bengkulu pukul 18.10 WIB. Sedangkan gempa kekuatan terendah 4,5 SR terjadi Barat Daya Fakfak Irian Barat pukul 17.21 WIB
Dijelaskan juga, paska gempa dengan kekuatan 7,9 SR di Bengkulu, dalam jarang 30 menit berikutnya terjadi gempa susulan dengan kedalaman sama tapi titik kejadian diwilayah Painan Provinsi Sumbar dan Sungaipenuh Provinsi Jambi.
Terdata juga, kekuatan gempa di bengkulu 7,9 SR ternyata telah dimulai dan terjadi pada Selasa (11/9) malam pukul 23.32 WIB, dimana kekuatan gempa berkisar 4,9 SR, dengan kedalam 33 Km.(ded)

Daftar Gempa Terkini 24 Terakhir

Terjadi Pada(UTC=WIB-7) Lokasi Magnitude(SR) Kedalaman (Km) Wilayah

12-Sep-07 , 20:02:11 WIB 3.02 LS - 101.02 BT 6.1 SR 66 Km 113 km BaratDaya Sungaipenuh-Jambi 12-Sep-07 , 19:21:53 WIB 2.64 LS - 100.04 BT 5.7 SR 66 Km 154 km BaratDaya Painan-Sumbar 12-Sep-07 , 18:10:23 WIB 4.67 LS - 101.13 BT 7.9 SR 10 Km 159 km BaratDaya Bengkulu-Bengkulu 12-Sep-07 , 17:20:41 WIB 3.12 LS - 130.94 BT 4.5 SR 29 Km 153 km BaratDaya Fakfak-IrianBarat 12-Sep-07 , 15:12:55 WIB 8.25 LS - 128.12 BT 4.8 SR 101 Km 284 km TimurLaut Dili-TimorLeste 12-Sep-07 , 08:55:54 WIB 1.44 LS - 146.07 BT 5.0 SR 48 Km 607 km TimurLaut Jayapura-Papua
11-Sep-07 , 23:36:16 WIB 6.02 LS - 105.48 BT 4.9 SR 33 Km 33 km BaratDaya Kalianda-Lampung

Read More......

Selasa, 11 September 2007

Santai Aja Bawa 300 Butir Inek dan Heroin

* Lolos lagi dari Pelabuhan Internasional
* Penyeludupan narkoba semakin nekat.

Hanya berselelang dua hari polisi membekuk Fatkhur Rahman alias Abdul Jamil (27) yang sempat lolos menyeludupkan 500 butir ekstasi dari Malaysia lewat Pelabuhan Batam Centre, polisi kembali meringkus Muhamad Nazif bin Nurdin, seorang warga negara Singapura yang membawa 300 butir pil ekstasi, Sabtu (8/9) malam.

Nazif berhasil mengelabuhi pemeriksaan petugas pelabuhan. Ia justru ditangkap Tim Musang Satuan Narkoba Poltabes Barelang saat hendak keluar dari pelabuhan itu. Awalnya, tidak ada sedikit pun raut ketakutan di wajah tersangka.

Namun, polisi yang sudah yakin dengan ciri-ciri tersangka menggirignya dari keramaian ke tempat sepi, dan melakukan pemeriksaan lagi.
Dan ditemukan 300 butir pil ekstasi yang disembunyi balik celana dalamnya. Barang haram itu dikemas dengan plastik putih dilapisi dengan lakban hitam. Sementara di dalam sepatunya ditemukan lagi 2 paket shabu-shabu, satu paket heroin jenis putaw, 1 paket sobutex dan 3 buah tabung kaca kecil.

"Sepertinya ia sudah biasa membawa narkoba. Sepertinya tidak ada rasa takut. Kelihatan santai aja," ujar seorang petugas. Belakangan dalam pemeriksaan diketahui, Nazif merupakan mantan residivis. Ia mengaku pernah ditangkap polisi Singapura karena kasus narkoba dan menjalani hukuman selama 6 tahun di Singapura.
"Saya keluar dari penjara tahun 2003," ujarnya. Setelah menjalani hukuman, Nazif kembali berulah. Dengan menumpang kapal Ferry Indo I, tersangka membawa barang haram tersebut. "Teman M (DPO) memesan barang itu, untuk dibawa ke Batam. Harganya per butir 10 ringgit, semua 3000 ringgit,"ujarnya. Ia mengatakan, belum sempat membicarakan berapa upah yang akan diberikan oleh si pemesan barang itu.

"Kalau shabu dan putau itu memang untuk saya pakai," akunya. Dari passportnya, tersangka sudah dua kali keluar masuk Batam. Meski mengaku baru sekali menyeludupkan narkoba, petugas mencurigai, tersangka sudah sering menyeludupkan narkoba dengan cara yang sama.
"Di singapura ia mengedarkan heroin, dan kalau dia ke Batam membawa ekstasi karena peminat heroin di Batam kurang," ujar seorang petugas. Penangkapan heroin sendiri, masih satu kali ini tertangkap di Batam. Saat ditimbang heroin (putaw) seberat 0,4 gram sedang shabu 0,8 gram.
Kapoltabes Barelang Kombes Pol Slamet Riyanto mengatakan, masih menyelidiki apakah tersangka ada hubungannya dengan sindikat Fatkhur Rahman. "Dilihat dari modusnya sedikit berbeda, kalau Rahman menyimpan dalam tas. Tapi yang ini disimpan dalam celana dalam. Tapi dilihat dari barang buktinya sepertinya sama, mungkin satu produksi," ujarnya. Meski demikian, Nazif mengaku tidak mengenal Fathur.
Slamet menambahkan akan menyelidiki apakah ada keterlibatan aparat dan akan bekerjasama dengan Polda Kepri dan Mabes Polri mengusut jaringannya.(sam)

Read More......

Hati-hati Merekatkan Amplop dengan Lidah

Dari kiriman email salah seorang teman..... Semoga bermanfaat...

Bicara tentang bagian tubuh, lidah adalah salah satu indera perasa kita yang paling penting ting... ting... ting... Kenapa? Karena dengan lidah kita bisa makan, bicara... dan yang paling sering adalah merekatkan amplop atau perangko atau materai ketika kita mau kondangan, kehabisan lem atau waktu akan mengirim surat di kantor pos tapi males ngambil lem yang belepotan karena sudah kesentuh sama beribu-ribu tangan.

Jangan pernah menjilat amplop, materai atau perangko untuk merekatkannya. Kenapa....?? Suatu hari seorang wanita yang bekerja di sebuah kantor pos California merekatkan amplop dan perangko tanpa menggunakan lem atau busa basah, melainkan dengan cara menjilatnya. Pada saat itu wanita tersebut langsung merasakan lidahnya terasa seperti teriris.

Seminggu kemudian dia merasakan sesuatu yang tidak biasa pada lidahnya. Dia pergi ke dokter namun dokter tidak menemukan sesuatu yang aneh pada lidahnya.

Beberapa hari berikutnya, lidahnya mulai agak membengkak dan mulai terasa sakit sehingga dia tidak dapat makan apapun. Lalu dia segera ke RS dan dokter melakukan pemeriksaan X-Ray.

Ternyata ada sesuatu didalam lidahnya. Saat itu juga dokter segera mempersiapkan pembedahan kecil. Ketika dokter mengiris dan membuka lidah tersebut, ternyata seekor kecoa kecil merayap keluar wuihihihi kaya di film-film.

Setelah diselidiki ternyata kecoa tersebut berasal dari telur kecoa yang sangat kecil yang menempel pada bagian lem amplop.

Setelah dijilat maka telur tersebut menempel pada lidah dan mengeram disana. Karena adanya ludah yang hangat dan lembab akhirnya kecoak tersebut menetas.

Lalu ada juga kejadian nyata yang lain dilaporkan oleh CNN. Andy Hu menulis :Saya bekerja di pabrik amplop, dan kalian tidak akan percaya bahwa ada sesuatu yang mengambang disekitar nampan wadah lem.
saya tidak pernah sekalipun menjilat amplop. Saya pernah bekerja di percetakan (32 tahun lalu) dan kami selalu dihimbau agar jangan merekatkan amplop dengan lidah.

Saya tidak pernah mengerti mengapa, hingga suatu saat saya masuk ke ruangpenyimpanan untuk mengambil 2,500 lembar amplop yang sudah dicetak dan melihat sendiri beberapa ekor kecoa berkeliaran di dalam kotak amplop dengan telur kecoa dimana-mana. Mereka hidup dengan memakan lem yang terdapat pada amplop-amplop tersebut.

Setelah mengetahui hal ini, nah... jangan pernah sekalipun kita merekatkan amplop, perangko ataupun meterai dengan cara menjilatnya. Gunakanlah lem atau busa basah ya....(Revida/pintunet.com)

Read More......

Senin, 10 September 2007

Doraemon dan Nobita ke Batam


Read More......

500 Ekstasi Lolos dari Intaian X-Ray



BATAM, TRIBUN- Mengejutkan aksi penyeludupan yang dilakukan Fatkhur Rahman alias Abdul Jamil (27). Siapa sangka pria ini berhasil mengecoh penjagaan ketat petugas di Pelabuhan Internasional Batam Centre, dan berhasil menyeludupkan 500 butir pil ekstasi dari Johor Bahru, Malaysia.
Begitulah penuturan tersangka Fatkhur Rahman kepada sejumlah wartawan di Mapoltabes Barelang, Senin (10/9). Ia menuturkan, pil-pil hayal warna merah jambu itu dilapisinya pakai tumpukan baju-baju dan dikemas dalam tas travel bag. Dengan tenang Rahman mengikuti jalur pemeriksaan dan memasukan tas lewat X Ray dan ditektor.
"Diperiksa," ujar tersangka saat ditanya wartawan di hadapan Kapoltabes Barelang Kombes Pol Slamet Riyanto. Ia mengatakan, sendirian masuk ke Batam dengan menumpang Ferry Owner 3 September lalu. Di Batam ia sempat menginap di Hotel Pelita.
Ia justru tertangkap tiga hari kemudian (6/9) dini hari di jalan raya Blok V dekat Winsord, Penuin saat akan menjual barang haram itu. "Saat itu, saya lagi berdiri mau menemui pembeli," ujarnya. Ia mengaku kaget, saat pria berpakaian preman yang belakangan diketahui petugas Tim Musang Satuan Narkoba tiba-tiba datang menghampirinya.
Dengan mudah ia berhasil dibekuk bersama 500 pil yang dikemasan dalam plastik merek SMPI. Petugas kemudian melakukan pengembangan lagi. Dan polisi menemukan narkoba lain, satu paket shabu-shabu di dalam kamar hotel tempatnya menginap. " Barang saya peroleh dari Peter, warga negara Malaysia. Per butir harganya 20 ringgit," ujar pria kelahiran Tanjungbatu.
Ia mengaku baru satu kali menjalankan bisnis haram itu. Rencananya akan dijual seharga Rp 40 juta dan jika berhasil, pria yang sudah 20 tahun berada di negeri jiran itu akan mendapat keuntungan sebesar Rp 14 juta. Sejauh ini polisi masih melakukan pengembangan. Kompol Slamet Riyanto mengatakan, akan berkoordinasi dengan Dirnarkoba Polda Kepri dan Interpol Mabes Polri untuk meringkus jaringannya.
"Yang ditangkap ini kurir. Ada kemungkinan tersangka merupakan salah satu jaringan internasional. Belum bisa kita katakan, apakah terlibat dengan oknum. Tapi kita akan menyelidkinya," ujar Slamet saat ditanya apakah ada kecurigaan tersangka dalam aksinya melibatkan oknum petugas.
Slamet mengatakan, akan berkoordinasi jajarannya tengah berkoodinasi dengan petugas di pelabuhan tersebut untuk pengusutan lebih lanjut. " Apakah tersangka melewati X-Ray atau tidak akan kita selidiki lagi," katanya seraya mengatakan, tersangka dijerat dengan pasal 59 ayat (1) Undang-Undang No 5 Tahun 1997 tentang psikotopika jo pasal 62 Undang-Undang No 5 tahun 1997 tentang psikotropika.
Sumber dikepolsian menyebutkan, jika membawa tas otomatis akan tas tersebut harus dimasukkan dalam pemeriksaan X-Ray. Dan jika diamati, di pelabuhan tersebut begitu tiba di tempat pemeriksan X-Ray, masih ada lagi dua orang petugas yang akan melakukan pemeriksaan lagi terhadap pemilik barang.
Dua petugas itu menggunakan metal detektor ketika memasuki pintu detektor kecil. Batam, nampaknya belum bisa bebas dari masalah narkoba. Sebelumnya, pada 22 Juli lalu, Sumiati (32) Symasiah (39) ditangkap saat menyeludupkan 2 kg shabu di Bandara Hang Nadim.
Petugas imigrasi Batam, juga sempat dibikin repot gara-gara penangkapan Gopal, warga negara Nepal dan Elisa (WNI) karena tertangkap membawa 650 gram shabu-shabu oleh jajaran Direktorat Badan Narkotika (BNN) di Jakarta Maret lalu. Pasalnya, kedua pelaku dalam pemeriksaan petugas mengaku, menyeludupkan barang terlarang itu dari Singapura lewat Batam sebelum ke Jakarta.
Masih ada lagi tangkapan Polair Mabes Polri yang menggemparkan, tiga kurir Ationg, Pujo dan Oki yang menggunakan KM Jaya Makmur di perairan Selat Philips 22 November 2006 lalu. Polisi mengamankan 13.009 Butir Ektasi dan 12.490 Happy Five. Ketiga pria yang kini berstatatus terpidana mati itu bahkan mengaku sudah tiga kali menyeludupkan barang haram dari Malaysia ke Jakarta via Batam.
Item Miser 3 Pada tanggal 15 April 2005 lalu, di Pelabuhan Fery International Batam Centre telah diresmikan satu alat canggih pendeteksi narkoba dan bahan peledak. Alat itu bernama Item Miser 3 yang keberadaannya baru empat titik di Indonesia. Denpasar, Medan, Jakarta, termasuk Batam.
Pengoperasian alat itu ditandai dengan kedatangan Kepala Polri Jenderal Polisi Sutanto yang kala itu menjabat Kalakhar BNN dengan pangkat Komisaris Jenderal.
"Alasan pemilihan Batam karena merupakan pelabuhan internasional terbuka sehingga banyak masuk orang-orang luar ke Indonesia begitupula sebaliknya. Alat ini tentunya akan lebih meningkatkan kewaspadaan," kata Sutanto saat itu. Namun, keberadaan alat ini, tampaknya bukan menjadi penghalang berarti bagi penyeludup narkoba. (sam)

Read More......

Minggu, 09 September 2007

Remaja Tewas 'Ngelem'

-- Sudah kecanduan dua tahun lebih

BATAM, TRIBUN- Warga Tanjunguma RT 02 RW 04 heboh. Mohamad Reagen (16) ditemukan tewas dengan posisi tengkurap di rumahnya. Kedua tangan dan mulut serta lehernya masih belepotan lem perekat berwarna kuning bening, Minggu (9/9) pukul 10.00
Tadi malam (9/9) sekitar pukul tiga dini hari, Reagen baru pulang dari main. Wartini, ibunya Reagen yang membukakan pintu tidak menaruh curiga kepada anaknya. "Dia memang sering pulang malam. Padahal setiap hari kutegor, tapi melawan." kata Wartini.
Setelah masuk rumah, Reagen langsung ke kamar belakang untuk tidur. "Reagen, kenapa kamu tidur di kamar belakang. Di situ banyak nyamuk." tegur ibunya. Saat itu Reagen menjawab, tak apa-apa karena di belakang lebih enak anginnya dan pingin tidur sendiri.
Sebelum berbaring di kamar belakang yang terpisah dari rumah induk, Reagen mencari neneknya yang tadi siang telah bertemu bahkan memberinya uang. "Mak, Nenek mana?" tanya Reagen malam itu. Wartini mengatakan, nenek tidur di Bengkong tempat wawak. Wartini tidak menyangka ternyata pertanyaan Reagen mencari neneknya itu adalah kata-kata terakhir sebelum berpisah dengan keluarganya.
Pagi itu, Wartini ibunya Reagen telah mempersiapkan makanan untuk bekal jalan-jalan. Bangun pagi langsung ke dapur memasak dengan jumlah banyak. Hal itu dilakukan oleh Wartini karena neneknya Reagen yang datang dari Malaysia kemarin untuk memanjakan cucu-cucunya dan poto bareng.
Sekitar pukul 09.30, neneknya Reagen memberitahu bahwa nanti pukul 10.00 akan datang menjemput cucunya. Kebetulan tugas memasak dan memandikan adik-adik Reagen yang masih kecil sudah selesai. Wartini ke kamar belakang tempat Reagen tidur untuk membangunkannya. "Reagen, bangun. Bangun nak, katanya mau jalan-jalan dengan nenek." ujar Wartini.
Setelah beberapa saat tidak menjawab, Wartini memegang kaki Reagen. Ibu enam anak ini heran, kakinya kok dingin. Kemudian menarik tangan Reagen yang tertindih badan, karena posisi tidurnya tengkurap. "Kayaknya dia melawan. Tapi kok kaku." Wartini makin curiga terhadap anaknya.
Begitu badan Reagen direbahkan telentang, Wartini mendapati kondisi anaknya mengenaskan. Kedua telapak tangannya banyak lem. Hidung, mulut dan lehernya juga terkena lem kuning bening. Hidung dan mulut mengeluarkan busa. Setelah digoyang-goyang tak ada jawaban lagi, Wartini yakin anaknya sudah tak bernyawa. Saat itu juga Wartini menangis sejadi-jadinya dan teriak minta tolong.
Saudaranya Reagen segera memanggil dokter Ade di Puskesmas Lubukbaja. Kebetulan rumahnya hanya berjarak puluhan meter dari kantor puskesmas itu. Dokter Ade segera memeriksa keadaan Reagen. "Saya lihat masih banyak lem yang belepotan di mulut, leher dan kedua tangannya. Dan sebuah kaleng kecil warna merah putih bertuliskan 'lem perekat serbaguna' berada di sisinya. Langsung bersihkan semua untuk memastikan kondisinya. Hidung dan mulut masih mengeluarkan busa. Ketika lem yang di leher dibersihkan, kulitnya ikut terkelupas." kata dokter Ade.
Rizal, ayah Reagen yang sehari-hari buka usaha kedai di pasar induk Jodoh menceritakan, Reagen sudah kecanduan lem itu sejak dua tahun lalu. Bahkan pernah ditangkap oleh jajaran Polsek Lubuk Baja pada saat razia preman. "Bila sudah menghisap barang itu, Reagen kayak orang gila. Dengan mamaknya saja tak ingat." kata Rizal sambil mengusap air mata.
Padahal hari-hari biasa, Reagen paling takut dengan ibunya. Begitu sudah 'ngelem' semua orang dilawan tanpa takut sedikitpun. "Siapa kau. Mamakku bukan Kau! Aku juga bukan Reagen." kata Reagen yang ditirukan oleh ayahnya. Menurut Rizal, Reagen yang kelas satu SMP swasta di Bengkong (Hang Tuah) ini sering tidur di kelas. Karena beberapa kali dirinya dihubungi oleh pihak sekolah yang mengadukan kondisi Reagen bila di kelas.
Kapolsek Lubukbaja AKP Teguh Wibowo yang mengunjungi lokasi berjanji segera merazia anak jalanan dan pengamen. Ditegaskannya, Reagen pernah dua kali ditangkap waktu razia anak jalanan. Penahanan selama 1x24 jam kemudian dilepaskan. Karena keluarga menjamin dan berjanji akan memasukkan Reagen ke pesantren.
Teguh menambahkan bahwa remaja yang tidak mendapatkan pengawasan ketat dari orang tuanya sangat rawan salah pergaulan. Apalagi remaja yang sering keluar malam tanpa alasan yang jelas, harus dicegah sedini mungkin. Bila orang tua mendapati anaknya ada hal-hal yang mencurigakan segera ambil tindakan. Kasus ini adalah yang pertama di Batam. Sejauh ini remaja yang 'ngelem' hingga tewas belum pernah ada. (wid)

Read More......

foto hutabarat 2


Read More......

foto hutabarat


Read More......